Jalan KH Ahmad Dahlan No. 9 Sibolga 22536 E-mail : ski_cakra@yahoo.co.

Sabtu, 20 Agustus 2011

“ESEK ESEK UDUK UDUK” TAPANULI TENGAH LUMAYAN JUGA LAH

“ESEK ESEK UDUK UDUK” TAPANULI TENGAH
LUMAYAN JUGA LAH

Tapteng, CAKRA
Bagi penggemar sesat lokasi maksiat, Tapanuli Tengah boleh menjadi Surga yang sangat menjanjikan, menggiurkan, dan menjadi jawaban yang memuaskan. Mengapa tidak, tempat tempat sial semacam itu bertebaran di wilayah Tapanuli Tengah, mulai dari pinggiran Kota Pandan, hingga Manduamas di wilayah perbatasan. Berkelompok kelompok dan punya nama sebutan yang diketahui oleh hampir seluruh warga, tidak hanya Tapanuli Tengah, tapi juga warga Kota Sibolga.
Jika ada yang bisa dan mau membuat Peta Tematik lokasi Prostitusi yang ada di Tapanuli Tengah, maka akan tergambar betapa Kota Sibolga terapit sedemikian rupa oleh lokasi lokasi sesat ini. Selain laut, maka semua sisi Kota Sibolga berisi lokasi lokasi yang semacam ini. Mulai dari arah Pandan, sampai ke arah Barus. Jika dimulai dari KM 14 di Kalangan, maka bisa dihitung kearah Sipange, kemudian beranjak ke Jalan Baru. Disebelah sana, ada Panakkalan, terus, terus, hingga ke Manduamas yang menamainya Kampung Baru, bertebaran banyak sekali. Kenapa ?.

Entahlah. Tak ada informasi sejarah yang menggambarkan kapan tradisi itu dimulai, tak ada penjelasan yang pasti kapan proyek jahannam itu mulai beroperasi, yang jelas kini tampak terbuka dimata, Tapanuli Tengah termasuk sarang Lokalisasi, sarang prostitusi. Tak ada yang tak tahu itu benar terjadi, bahkan anak anak SD pun tahu, kalau daerah daerah itu adalah tempat maksiat, tujuan perjalanan orang orang sesat.

Yang jelas sekarang ini lokasi semacam itu bertabur subur ditanah Tapanuli Tengah yang luas ini. Jika ditanya apakah itu pertanda kalau banyak masyarakat Tapanuli Tengah yang tak terganggu dibuatnya jawabannya tidak sama sekali. Ada ribuan orang yang tak suka tempat itu ada. Artinya, Pemkab Tapanuli Tengah sudah semestinya menjadikan lokasi lokasi itu sebagai pusat perhatian untuk dapat ditertibkan. Jangan sampai bencara datang dulu baru ramai ramai ingin merubahnya. (SDP)

Baca Selengkapnya......

PROYEK SILUMAN SELALU MEWARNAI KECAMATAN BARUS UTARA

PROYEK SILUMAN SELALU MEWARNAI
KECAMATAN BARUS UTARA

Barus Utara | Cakra
Pemerintah Kab. Tapanuli Tengah tahun 2010 – 2011 selalu memberi perhatian di Kec. Barus Utara itu terbukti karena pemerintah tidak lupa mengalokasikan anggaran untuk kepentingan masyarakat di kecamatan yang dimaksud. Proyek bernilai puluhan juta rupiah hingga ratusan juta rupiah terdapat di sana, pembangunan Pos Kamling, Kamar Mandi Umum, Gedung Laboratorium, Gedung Perpustakaan, Sumber Air Bersih dan lain sebagainya. Tetapi sangat di sayangkan, proyek itu semua adalah proyek jadi-jadian atau proyek “SILUMAN” pasalnya semua proyek yang dialokasikan ke kecamatan Barus Utara diduga sarat KKN. Bahkan para pemborong proyek berlagak seorang “RAMBO” seolah-olah mereka yang punya kuasa tanpa ada yang berani memprotes bahkan menanyakan asal usul proyek tersebut dan juga para pemborong tidak pernah memasang plang proyek dan itu diduga disengaja agar masyarakat tidak tau nama pengelola proyek, sumber dana, besar anggaran dan jangka waktu pengerjaan sehingga oknum-oknum pemborong bekerja sama dengan para penguasa di kecamatan Barus Utara bisa semaunya mamanipulasi anggaran demi kepentingan pribadi maupun golongan.

Proyek pembangunan pos kamling misalnya, bahannya menggunakan papan ataupun kayu beratap seng yang katanya menelan biaya Rp. 12jt dan pembangunan kamarmandi umum menjadi cerita lelucon di tengah-tengah masyarakat. Pembangunan Gedung Perpustakaan yang bersumber dari anggaran DAK Dinas Pendidikan yang kondisi bangunannya asal jadi dan sudah delapan bulan selesai belum diserahkan kesekolah yang bersangkutan. Proyek yang menelan biaya Rp. 800jt ? yaitu pembangunan sumber air bersih di desa Purbatua juga tidak jelas rimbanya, pengerjaannya asal-asalan, pipa saluran air di tanam hanya dengan kedalaman 15 cm dan bahkan ada yang berada di atas permukaan tanah.

Ketua LSM Cakra Cab. Barus Utara Fardison Nadeak pernah menanyakan hal tersebut ke kepala desa Purbatua beliau mengatakan tidak tau persis tentang proyek yang dimaksud bahkan camat Barus Utara Ir. R. Togap. P. Mahulae mengatakan tidak tau bahwa pembangunan proyek air bersih sudah dibangun di desa Purbatua, jawaban para aparat pemerintah sungguh sangat luar biasa dan di duga mereka sengaja memberikan jawaban seperti itu agar mereka seolah-olah tidak terlibat dalam pengelolaan proyek. Diduga para oknum aparat pemerintahan di Kab. Tapteng ikut terlibat sehingga membuat pernyataan tidak tau dan juga agar mereka bisa leluasa bermain demi mendapatkan lembaran ratusan ribu rupiah demi kepentingan pribadi maupun golongan, demikian di ungkapkan Fardison Nadeak kepada SKI Cakra. (ndk)

Baca Selengkapnya......

MENGAWAL BABAK BARU TAPANULI TENGAH

MENGAWAL BABAK BARU TAPANULI TENGAH
ANTARA OPTIMISME DAN PESIMISME

Tapanuli Tengah, CAKRA
Sejak Selasa (9/8) lalu, Kabupaten Tapanuli Tengah membuka babak baru, Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah periode 2011-2016 oleh Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjonugroho, ST dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Tapanuli Tengah yang dilangsungkan di Gedung Serba Guna Pandan
Tidak lagi begitu perlu membahas prosesi pelantikan yang dihadiri ribuan orang dari berbagai penjuru Tapanuli Tengah, bahkan ada banyak warga Sibolga ikut ikutan datang dan mencoba menerobos masuk ke arena pelantikan. Itu semua dilakukan karena memang sosok Raja Bonaran Situmeang bukan orang asing di Kota Sibolga, apalagi H. Syukran Jamilan Tanjung yang pernah menjadi warga Kota Sibolga. Dalam catatan, Keluarga Besar H. Syukran J Tanjung pernah tinggal di Kelurahan Pancuran Dewa Sibolga Sambas.

Berbagai pendapat bermunculan, ada optimisme yang sangat meyakinkan, ada pula pesimisme dengan berbagai alasan, bagaimana kemungkinan perhitungan kemampuan pasangan Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE dapat memberikan warna baru di Tapanuli Tengah.

Kepada SKI CAKRA, Maruli P Simanjuntak (Ketua Harian PP LSM CAKRA) mengatakan pendapatnya mengenai pasangan Bupati dan Wakil Bupati ini. “Tergantung Bonaran dan Syukran. Tidak akan mudah, tapi bisa dilakukan dengan mengedepankan keterbukaan. Intinya, Rakyat Tapteng butuh pimpinan yang mampu mengembalikan hak dasar mereka sebagai warga negara. Ukurannya mudah, seberapa besar dan kuatnya Bonaran Syukran menjawab keinginan warga masyarakat”. Demikian Maruli menyampaikan.

Endamora Pulungan (Wkl Ketua PP LSM CAKRA) dilokasi yang sama memberikan pendapat. “Persoalan yang mendasar menurut saya adalah Perangkat Tapanuli Tengah bisa tak mendukung dengan baik. Seperti Kondisi DPRD Tapanuli Tengah yang dikuasai sepenuhnya oleh Demokrat”. Artinya, Mora melihat akan banyak masalah yang bakal muncul dalam perjalanan kepemimpinan Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE di Tapanuli Tengah, Mora memperkirakan akan banyak ganjalan yang muncul, terutama dari DPRD Tapanuli Tengah yang berasal dari Partai Non Pendukung Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE sewaktu maju sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah.

“Saya Percaya Bonaran, Tapi Maaf. Saya tak yakin dengan Syukran”. Itu ungkapan Sekjend PP LSM CAKRA. Pulungan lebih melihat rekam jejak seorang Syukran yang sempat tersandung masalah saat tahapan pemilukada. Alasan itu menurut Pulungan dapat mengurangi greget keduanya kedepan. Prilaku itu kata Pulungan sulit untuk dilupakan, dan tak ada jaminan kalau bakal tidak akan dikerjakan kembali kedepan.

Jontua Situmeang, warga Kecamatan Sorkam mengatakan. “Prediksi saya mengatakan kalau kepemimpinan Raja Bonaran Situmeang dan H. Syukran J Tanjung tidak akan panjang kalau Panglima Talamnya tidak segera dibumi hanguskan. Dan Tim Pemenangannya ditingkat Kecamatan harus ditekan habis habisan, karena Tim Pemenangan dimaksud sering bicara terlampau maju, terutama kepada lawan politiknya, yang seharusnya lawan politiknya dianggap kawan. Artinya, harus bermain cantik lah”.

Jontua Situmeang melihat kondisi dalam Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE yang terlalu bercampur bumbu ketidak beresan. Bukan keduanya memang, tapi orang orang yang mengaku dekat dengan keduanya. Apalagi mereka yang berada di tingkat kecamatan, jarang ada yang berfikir kalau membangun keadilan dan kesetaraan tidak dengan mempertontonkan siaran langsung sikap Sok hebat, besar kepala, dan banyak omong. Jontua khawatir, jika Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE tidak mampu menekan kondisi itu, maka umur jabatannya tidak lama. Bisa rusak dan atau dirusak orang orang yang awalnya berada di belakangnya. Dan tidak itu saja, persoalan itu bisa jadi dilema makan buah simalakama, serta memupuk kesempatan pihak ketiga untuk mengambil langkah agresif, bermain diair keruh atau semacamnya.

Tapi Kennedy Situmeang, warga Pasaribu Tobing yang juga tercatat sebagai aktivis LSM dan Organisasi Kepemudaan ini mengatakan. “Saya Percaya Raja Bonaran Situmeang dan H. Syukran J Tanjung akan mampu menjadi Pemimpin terbaik di Tapanuli Tengah, keyakinan itu datang karena dukungan masyarakat yang murni dari hati nurani”.

Kennedy Optimis kalau Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE mampu memberikan yang terbaik bagi Tapanuli Tengah. Dukungan murni yang muncul dari hati nurani itu kata Kennedy tidak dapat diterjemahkan kedalam kata kata yang tertulis diatas kertas. Dukungan murni itu menurut Kennedy akan menjadi pengawal abadi bagi Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE yang akan membawa Tapanuli Tengah kearah yang jauh lebih baik dari kondisi yang sekarang.

Syamsudar Meha, yang juga Ketua PC LSM CAKRA Kecamatan Barus mengatakan kalau Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE sudah lebih dulu terjebak dalam setuasi yang kurang harmoni. Setuasi yang menurut hemat Meha akan menjadi titik awal kendurnya percaya rakyat kepada keduanya. Dan itu pula yang merobah pikiran Meha yang kini tak percaya kalau Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE mampu membawa Tapanuli Tengah kearah yang seharusnya.

“Saya tidak yakin Raja Bonaran Situmeang dan H. Syukran J Tanjung mampu menjadi Pemimpin terbaik bagi Tapanuli Tengah. Mengapa ?, 1. Janji janji disaat Kampanye terlalu banyak, dan masyaakat akan tuntut janji janinya. 2. Saat sekarang ini Raja Bonaran Situmeang dan H. Syukran J Tanjung telah berdampingan dengan orang yang telah menghancurkan Tapanuli Tengah, yaitu : BAKTIAR A SIBARANI. Nah, pertanyaannya, Apakah masyarakat tidak tanda tanya mengapa Raja Bonaran Situmeang dan H. Syukran J Tanjung jadi berdampingan dengan orang yang dibenci masyarakat selama ini ?”. Demikian Syamsudar Meha menyampaikan.

Warga Barus lainnya Jawalli Pasaribu melihat lebih arif. Jawalli Pasaribu lebih menekankan kepada upaya membangun nilai nilai kebersamaan antara penguasa dan yang dikuasai, Jawalli Pasaribu mengklaim jika kesuksesan sebuah daerah tidak sepenuhnya tergantung kepada siapa pemimpinnya, akan tetapi keberhasilan itu hanya bisa diukur sempurna dengan menyamakan persepsi bersama, sebentuk Kolaborasi yang bertujuan sama, antara Pemimpin dan rakyat secara menyeluruh.

“Soal mampu tidak mampu, itu persoalan kita Masyarakat Tapanuli Tengah, dan jawabannya ada pada kita. Kalau Raja Bonaran Situmeang dan H. Syukran J Tanjung mau bergandengan tangan dengan rakyat, apa yang tidak bisa. Artinya, tanpa kesadaran kita masyarakat Tapanuli Tengah, Bupati tidak akan mampu memenuhi keinginan kita di Tapanuli Tengah ini”. Demikian Jawalli mengatakan.

Dasar pikiran Jawalli Pasaribu sebenarnya cukup sederhana. Yang mengukur kesuksesan pasangan kepala daerah adalah warganya, sejauh dan sebesar mana minta yang dilayangkan oleh warga kepada pemimpinnya. Semakin besar muatan permintaan, maka semakin besar kemungkinan ketidakmampuan. Begitu sebaliknya, jika permintaan warga tidak membabi buta, tidak ada alasan yang dapat diterima akal kalau kepala daerah bakal masuk kejurang gagal. Simpelnya, ukuran keberhasilan kepala daerah bagi Jawalli Pasaribu adalah seberapa besar permintaan yang disampaikan warganya.

Jika boleh membangun analisa. Baik Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum maupun H. Syukran Jamilan Tandjung, SE adalah dua orang yang pernah berada ditengah masyarakat yang kontradiktif dengan pemerintah. Bonaran maupun Syukran pernah memasang sikap menantang kepada kebijakan pemerintah yang dipandang tidak memihak kepada rakyat. Khusus di Sumatera Utara dan lebih khusus lagi Kabupaten Tapanuli Tengah keduanya jelas sudah berbuat, sudah memasang badan untuk advokasi rakyat yang dipandang tertindas.

Jika Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum lebih banyak memilih bermain dibalik layar perjuangan perlawanan rakyat, H. Syukran Jamilan Tandjung, SE berani unjuk tampang dan terkesan garang untuk urusan yang seperti itu. Paling tidak, mungkin belum ada yang lupa dengan staitmen H. Syukran Jamilan Tandjung, SE semasa menjadi Anggota DPRD Sumatera Utara mengenai persoalan yang ada di kampung halamannya Barus dan sekitarnya. Kita juga masih ingat ketegasan Syukran saat terjadinya kemelut Protap di DPRD Sumatera Utara. Terlihat jelas saat itu, kalau Syukran adalah bagian dari rakyat, siap memasang badan untuk rakyat.

Apakah itu cukup menjadi jawaban kalau Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE akan mementingkan rakyat Tapanuli Tengah secara utuh dan menyeluruh ?. Sama sekali belum terjawab, yang jelasnya Syukran sudah mengawalinya dengan tak sedap, para pendukungnya sudah memulai sikap tak mantap. Sekarang hanya bisa berharap, mudah mudahan kehendak rakyat tak kemudian malah tengkurap, mengendap, lenyap. (SDP)

Baca Selengkapnya......

Opini : MENGINGAT MATI (Untuk Para Syuhada Pahlawan Pergerakan Bangsa)

MENGINGAT MATI
(Untuk Para Syuhada Pahlawan Pergerakan Bangsa)

Catatan :
Syamsud Dahri Pulungan (Sekjend PP LSM CAKRA/Pemred SKI CAKRA)

Ini Tanah mereka ....
Mereka yang bersimbah darah.
Mereka yang pergi meninggalkan rumah.
Mereka yang dadanya ditembus peluru penjajah.

Ini Tanah mereka ....
Mereka yang tersenyum mati muda ....
Yang dimangsa waktu, tenaga, dan usia.
Untuk Kata .....
MERDEKA !.
Penggalan Puisi yang berawal dari rasa patah hati melihat gerak gerik para penguasa bangsa ini yang terus membangun lena dalam imbasan impi yang meraung membelah hati. Terkadang memang, niat tulus yang memangsa para syuhada Pahlawan Pergerakan Bangsa dimangsa pula oleh pola pikir apatisme dan semau gue yang ditahbiskan oleh para penguasa kini sebagai sikap pribadi yang tak punya rasa peduli, tak punya rasa simpati, tak punya rasa ingin berbagi. Tak punya nurani, tak punya naluri manusiawi, seakan bakal hidup seumur bumi.

Pahamilah. Bahwa negara ini tidak tumbuh seperti rumput dilapangan bola, tanpa perlu siraman perjuangan. Mengertilah bahwa Negara ini tidak lahir begitu saja, bukan kebun ciptaan alam semesta yang muncul begitu saja. Tapi, ini adalah buah dari tanaman yang bernama perlawanan perjuangan, tanaman itu tumbuh penuh dengan siraman. Siraman penumbuh yang mengalir dari tubuh para pahlawan. Entah sudah berapa tetes yang terambil oleh pergerakan perjuangan, melimpah sudah, tak terhitung walau dengan menggunakan mesin hitung secanggih manapun jua. Begitu juga saat ini, buah dari perjuangan ini bukan datang tanpa terlebih dahulu melalui deretan desah, Tanpa penjagaan, tanpa perawatan, tanpa perlu mendapatkan perhatian. Negara ini tumbuh dari sebuah akumulasi perjuangan yang tak dapat dinilai oleh siapapun. Akumulasi dari ratusan juta tetes darah yang menitik menyiram tiap jengkal tanah yang kini kita jadikan sebagai alat pencari nafkah. Kenapa begitu sulit memahaminya ?.

Tapi itulah hidup. Masih teramat langka menemukan manusia yang lebih takut pada Tuhannya ketimbang gesekan rupiah yang melintasi batang hidungnya. Masih teramat langka menemukan makhluk hidup berjenis manusia yang lebih mementingkan kearifannya sebagai bukti seorang abdi, ketimbang pemuasan isi kepala. Walau itu membelit kepala tetangga, walau itu memasung sanak keluarga, walau itu memeras tenaga warga. Keinginan untuk mendapatkan lebih masih lebih utama ketimbang memberikan lebih. Walau membagi sedikit lebih adalah ketentuan yang memang wajib dan harus dilakoni.

Tapi itulah hidup. Masih terlalu jauh jika masih juga berharap mendapatkan teladan dari seorang manusia yang terlanjur menikmati kuasa yang kadung ditangan. Terlalu sulit memahami mengapa penguasa dan atau calon penguasa begitu mudahnya menyampaikan janji janji indah, mengumbar kalimat kalimat menggugah, memeta jalinan harap yang pesonanya tiada terhingga, semuanya tampak mudah. Mengalir deras berbagi arah. Tapi berbanding terbalik dengan proses pelaksanaannya, berbanding 360° dengan kondisi saat pelaksanaan mulai terbuka. Pada akhirnya semua hanya berbentuk omong besar yang tak punya nilai sasar. Semua hanya janji manis yang berbentuk sadis, mengguris.

Intrik masih terus menjelma menjadi taktik, dan sering malah alergi dengan kritik. Sulit memang, teramat sangat sulit membekuknya, tak mudah meringkusnya, tak mudah menundukkannya, karena penggunanya tak lain adalah petugas yang biasa membekuk, pelaksana yang tiap waktu meringkus, terdiri dari SDM yang ahli membuat orang tunduk. Intinya, mustahil kalau ia membekuk dirinya, kurang masuk akal kalau kemudian ia meringkus dirinya, dan atau dia menundukkan dirinya, sulit kan ?. Pastinya, sebab karena itu tadi, terlalu bertumpuk masalah lalu yang harus dibalas jitu.

Jika pertanyaannya apakah tak terpikir oleh kita betapa “Hancur Leburnya” kehidupan para pejuang dulu, perjalanan menyakitkan dengan senang hati mereka lakukan, dengan bangga mereka praktikkan, dan tebusannya adalah kemerdekaan. Dan jutaan dari mereka justru tak pernah tahu bagaimana rasanya berdiri di tanah merdeka, mereka tak pernah nikmati bagaimana indahnya hidup saat ini semua benar benar sebuah negara, menjadi sebuah negeri yang diakui oleh seluruh isi bumi. Jawabannya entahlah. Sebab, tetap juga sulit menjelaskannya dengan sederhana. Jika dikatakan tidak ingat, buktinya masih ada Upacara Bendera, masih hapal Pancasila, Tahu Lagu Indonesia Raya. Jika dikatakan ingat, rasanya juga kurang tepat, sebab pada nyata yang ada, sebagian besar dari mereka tak tersentuh hatinya melihat anak bangsa tertatih ditanah mencari titik keadilan yang makin lama makin tak lumrah. Tak sedih isi otaknya melihat warga yang merintih menemui pedih yang menindih. Sialnya, mengakali anak bangsa masih terlihat biasa, memalu keadilan dan kemudian diarahkan untuk kepentingan kekerabatan bukan lagi sebuah masalah yang pantas dipersoalkan. Lantas apa ?.

Semua terasa makin tak terjelaskan. Menilap anggaran sudah masuk keranah kebiasaan, mark up bukan hal memalukan, bahkan sekelas pelayanan pun tak lagi membutuhkan keteladanan. Bahasa Abdi Negara sudah lebih banyak menikung kearah yang jauh dari makna sesungguhnya, abdi lebih banyak diartikan kepada Aku, bukan Hamba dalam bahasa seharusnya. Sehingga, makna Abdi Negara bukan lagi Hamba Negara, tapi lebih mengarah kepada, Akulah Negara. Karena terlalu banyak sudah yang tak pantas sekelas hamba, tapi lebih mengarah pada penguasa. Berbuat sesukanya, dan harus dihormati pula.

Jelas, dan sangat pasti sekali. Itu bukan hal yang diingini oleh para penyumbang nyawa untuk terbentuknya sebuah negara. Itu sama sekali bukan hal yang diharapkan oleh para syuhada yang dadanya ditempus timah panas penjajah. Mereka mati untuk sebuah harapan kesetaraan, mereka bersimbah darah untuk sebuah cita cita mulia yang sebenarnya semua orang tahu kalimat singkat dan panjangnya. Masalahnya bukan tahu atau tidak tahu, paham atau tidak paham, mengerti atau tidak mengerti. Tapi ini masalah Peduli atau tidak peduli, punya hati atau tidak punya hati, ikuti nurani atau tidak sama sekali, simpel.

Dulu, 66 Tahun yang lalu. Mengibarkan bendera Merah Putih adalah perwujudan impian dan harapan yang dibangun dengan tenaga dan pengorbanan yang dapat menutup kesempatan melanjutkan kehidupan. Tapi kini bagaimana ?, tak lebih dari sebuah kegiatan yang diwajibkan. Ada banyak yang menjamin, andaikan ada aturan yang membolehkan sebuah daerah tak harus melakukan upacara peringatan, maka akan ada banyak yang ramai ramai menjadikannya sebuah kesimpulan. Tak akan ikut dan membuat upacara kenegaraan, akan banyak yang mengatakan tak perlu ada peringatan.

Marilah kembali ke 66 tahun yang lalu. Saat itu tak ada gincu, sehingga tak ada waktu untuk bercermin menatap wajah yang dipolesi aneka kosmetik keluaran baru. Saat itu tak pasar, toko baju atau sepatu, maka mereka tak punya rok yang super mini, tak punya sepatu yang kilatnya kalahkan mentari. Yang ada hanya jalanan hutan dan berlumpur dalam, yang ada hanya tepas dan lubang perlindungan yang tak menyimpan bahan makanan yang cukup dan sepadan, yang ada hanya suara dentuman meriam dan desingan peluru penjajah yang dalam satu detik dapat membuat banyak anak kehilangan ayah, kehilangan paman, abang atau kakak, teman atau kerabat, dan lainnya. Saat itu tak ada kantin apalagi restoran, tak ada tempat jajanan yang menawarkan ragam makanan, tak ada waktu yang dapat diambil untuk duduk memandang lautan. Itu semua tak ada.

Tapi ketiadaan itu tidak membuat mereka resah, mereka justru marah dan mengejar penjajah kesemua arah, tak peduli darah sudah tercecer dihisap tanah, tak peduli anak dan istri makan apa dirumah. Yang ada hanya keinginan kuat untuk lepas dari keadaan yang kian parah. Merdeka, menjadi negara yang diakui dunia, menjadi bangsa yang diakui bangsa lain, berdaulat dan mengatur kehidupan sendiri.

Kenapa setelah ada gincu, banyak cermin, banyak waktu dan kesempatan, kemudian digunakan untuk kepentingan yang mengabaikan kepentingan kebanyakan. Kenapa begitu mudah menelantarkan tugas hanya untuk mengisi perut harus jauh dan memakan waktu yang berkepanjangan. Kenapa begitu mudah mematahkan aturan untuk keperluan kerabat dan handai tolan. Kenapa begitu mudah memutar aturan untuk menguntungkan kantong sendiri, dengan memeras kantong orang lain. Sulit untuk dipahami, sulit untuk dimengerti, sulit untuk diterima hati, tapi itulah yang sesungguhnya terjadi.

Setidaknya. Hari ini mari sama ingatkan diri. Hidup bukanlah sesuatu yang nilainya abadi. Hidup bukanlah sesuatu yang waktunya selama umur bumi. Dalam waktu yang tak dapat dipahami, dalam kurun masa yang tak dapat diukur pasti, akan datang sesuatu yang tak seorangpun mampu menghindari, MATI.

Cobalah pahami, cobalah berikan waktu untuk sekedar mengingatkan diri. Kekuasaan bukanlah sesuatu yang mampu memberikan bahagia abadi, perbuatan yang tak sesuai tidak akan membawa siapapun kealam yang lebih baik di manapun masa itu sedang berlaku kini. Ingat lah, bahwa MATI pasti kan terjadi.

Ini Bukan Tanah Kita .....
Yang terlahir dengan sambutan seisi keluarga
Yang terlahir dengan senyuman ayah dan bunda
Yang terlahir dengan persediaan pakaian yang serba ada
Bukan Tanah kita ...

Ini Tanah Mereka ....
Kembalikan pada Cita Tulus yang mereka punya...
Kembalikan pada Niat Suci yang Mereka ingin dari kita ...
Demi Darah mereka ....
Demi Usia mereka .....
Demi Nyawa mereka ....

Baca Selengkapnya......

Sekda Provsu Safari Ramadhan Ke Nisel

Sekda Provsu Safari Ramadhan Ke Nisel

Nias Selatan, Cakra:
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumatera Utara Drs. Rachmatshah, MM dan Nyonya berserta Rombongan melakukan Safari Ramadhan 1432 Hijriyah ke Nias Selatan di sambut oleh Bupati Drs. Idealisman Dachi berlangsung di Mesjid Agung AR-Rahman Telukdalam, Kamis,(11/08).
Penyambutan Kedatangan Sekda Provsu beserta rombongan di Daearh Nisel itu, di tandai dengan pemberian Pakaian Adat Tradisional Khas Nisel dan Kalung (Kalabubu). Turut hadir saat itu, Kapolres Nisel AKBP Leonardus Eric Bhismo, SIK, SH, Wakapolres Kompol Junaidy, SH, Sekda Solistis PO. Dakhi, SH, M.Hum, Ketua Tim Penggerak PKK Kab. Nisel Ny. Linda Nehe, Kabag Humas Erwinus Laia, S.Sos, Kakandepag Nisel AR. Telaumbanua, Tokoh Agama, Alim-Ulama, Para Anak Yatim Piatu serta Para Undangan Lainnya.

Bupati Drs. Idealisman Dachi dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Kabupaten Nisel dan Masyarakat sangat bahagia dan antusias menyambut rombongan Sekda Provsu. Bupati melaporkan kepada Sekda jika toleransi hidup beragama di Daerah Nisel, sangat kuat karena adanya hubungan kekeluargaan dan kekerabatan di antara pemeluk agama dan juga karena Masyarakat Nisel senang akan hidup damai dalam kerukunan. “ suasana ini sudah ada sejak dulu secara turun temurun,” Katanya.

Dalam setiap pelaksanaan kegiatan keagamaan di Wilayah Nisel Ujarnya, Pihak Pemerintah Daerah tetap mendukung. “Sebab, muaranya adalah terciptanya Masyarakat Nisel yang religius terutama di bulan suci Ramadhan ini. Kita harapkan juga, agar Masyarakat yang menjalankan Ibadah Puasa dapat benar-benar mendekatkan Diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar nantinya memperoleh predikat Taqwa dari Tuhan Yang Maha Esa,” Pintanya. Di sisi lain juga, Bupati mengharapkan kepada Masyarakat yang tidak menjalankan Ibadah Puasa, supaya menghargai bulan suci Ramadhan itu dengan tidak makan dan minum di tempat-tempat Umum.

Selain itu, Orang Nomor Satu di Daerah Nisel itu menyampaikan kepada Sekda bahwa Pemerintah Nias selatan sedang berbenah menuju perubahan yang lebih baik. “ miasalnya, Kota Telukdalam dulunya tampak kurang bersih dan sampah ada di mana-mana, kini, Kota Telukdalam telah bersih dan tertata dengan baik. Sedangkan para pedagang ikan dan sayur di alokasikan di tempat khusus dan tempatnya, juga terjangkau oleh Masyarakat. Ini Kita lakukan karena Kbersihan itu sebagaian dari Iman,” Pungkasnya.

Di hadapan Sekda Provsu juga, Bupati menyampaikan jika Pemerintah Daerah Nisel saat ini sedang menggalakkan program yang baik yakni, Program Pembebasan Biaya Pendidikan mulai dari tingkat TK sampai tingkat Perguruan Tinggi, Pembebasan Biaya kesehatan dasar bagi Masyarakat serta Program Pemberantasan KKN. “untuk mensukseskan program Pemerintah ini, Kami harapkan dukungan dari seluruh elemen Masyarakat Nisel,” Imbuhnya seraya mengajak Orang Tua supaya menyekolahkan anak-anakanya sehingga Daerah Nisel nantinya memilki Generasi yang berpendidikan, berakhlak baik dan berkualitas. Bupati juga mengharapkan perhatian serius Pemerintah provinsi terhadap Daerah Nisel khusunya dalam hal pembagian anggaran ke Setiap Kabupaten/Kota di mana Biaya Danah Bawah (BDB) dari APBD Provsu TA.2011 yang di plotkan untuk Nias selatan dalam hal pembinaan pendidikan hanya Sebesar RP. 100 Juta. “ Kalau Menurut Saya, Anggaran tersebut sangat menggelikan sebab, itu tidak cukup untuk membina pendidikan di Nisel. Jadi di harapkan kepada Pak Sekda Provsu, agar berjuang untuk memplotkan Anggaran ke Daerah Nisel sehingga Pemerintah Daerah Nisel mampu melakukan perubahan-perubahan di segala bidang,” Ucapnya.

Sementara, Sekda Provsu Drs. Rachmatshah, MM pada sambutannya mengungkapkan, sangat bangga terhadap program Bupati Nisel tentang pembebasan Biaya Pendidikan, Pembebasan Biaya Kesehatan dasar serta Pemberantasan KKN. “ program Bupati Nisel ini, patut di dukung. Dan program ini juga sudah termasuk visi-misi Gubernur Samsul Arifin Non-Aktif dan Gatot pujo Nugroho saat ini menjabat sebagai Plt. Gubsu yang menyatakan, rakyat Sumut tidak bodoh dan tidak sakit. Dan Hal itu sudah di realisasikan oleh Bupati Nisel,” Ujarnya.

Soal, Anggaran dari Provsu di mana Daerah Nisel Minim Mendapatkan khususnya Dana BDB TA. 2011 Ungkapnya, itu akan di perjuangkan supaya Daerah Nisel lebih besar menyerap anggaran dari APBD Provsu. “ insya Allah, terkait itu, Kita akan tetap perjuangkan, agar Nisel mendapatkan Anggaran yang besar dari Provinsi,” tuturnya. Dia juga menekankan, agar setiap pemimpin harus di senangi oleh Masyarakatnya. “ pemimpin yang seperti Bupati Nisel ini yang perlu di teladani. “ karena, programnya yang bertujuan membangun dan mensejahterakan Rakyatnya,” Bebernya. Pada kesempatan itu juga, Sekda provsu menyerahkan bingkisan secara simbolis kepada 150 Alim-Ulama dan 150 Anak Yatim-Piatu. Setelah itu, Sekda beserta Rombongan buka bersama dengan Para Hadirin. (NS-01)

Baca Selengkapnya......

DPRD Dukung Diberlakukannya Perda Tentang Sampah


DPRD Dukung Diberlakukannya Perda Tentang Sampah

GUNUNGSITOLI, CAKRA
DPRD Kota Gunungsitoli, melalui Ketua DPRD Sowa’a Laoli, sangat mendukung tentang pengusulan diberlakukannya Peraturan Daerah tentang penanganan sampah di Kota Gunungsitoli. Dengan memberikan sanksi dan hukuman yang membuang sampah tidak pada tempatnya.
Menurut Sowa’a, pemberlakuan Perda tersebut adalah hal yang sah-sah saja demi mewujudkan Kota Gunungsitoli yang bersih dan indah, saat dijumpai Wartawan di Kantor DPRD Kota Gunungsitoli, Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pasar, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, Rabu (3/8/2011).

Sowa’a juga menambahkan, bahwa hal tersebut sangat baik untuk Kota Gunungsitoli, dan akan memasukkan rencana pembentukan peraturan daerah tentang sampah kedalam programnya. Mengenai pembentukan Peraturan Daerah tentang Rabies beberapa waktu yang lalu, dia juga memberitahu bahwa hal tersebut telah masuk ke dalam programnya dan akan dibahas kedepan.

Tapi kita utamakan dulu Perda yang lebih penting, dan Perda tersebut harus dibahas satu persatu, sebab jika dilakukan secara tergesa-gesa, nanti hasilnya tidak akan baik, jelasnya. Wakil Ketua Komisi A DPRD Kota Gunungsitoli, Gatot Laoli ditempat yang berbeda, juga mengatakan sangat mendukung usul pembentukan Perda tentang sampah, Menurut Laoli, usul tersebut sangat bagus dan nantinya akan terus ditindak lanjuti.

Namun dia juga mengharapkan, sebaiknya pemerintah Kota Gunungsitoli lebih dahulu membuat dan membenahi tempat pembuangan akhir sampah dan pengolahan sampah Kota Gunungsitoli, kalau perlu, pemerintah dapat membuat tempat sampah yang memisahkan sampah basah dan sampah kering, sehingga dapat diolah dengan mudah.

Jika hal tersebut dapat terealisasi, maka Peraturan Daerah tentang sampah dapat segera kita berlakukan terhadap masyarakat, himbaunya. (LBS)


Bisakah Kota Gunungsitoli Terbebas Dari Sampah
Kepala Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Kota Gunungsitoli, Ignatius Harefa, kepada Wartawan, Selasa (9/8/2011) mengatakan bahwa sangat mustahil Kota Gunungsitoli bisa terbebas dari sampah sebelum tanggal (17/8/2011). Seperti apa yang diputuskan pada rapat Komisi B dan Komisi C DPRD Kota Gunungsitoli dengan pemerintah kota Gunungsitoli beberapa waktu yang lalu.

Tetapi dia berjanji sebagai Kadis Tarukim, akan berusaha semaksimal mungkin membersihkan seluruh sampah yang telah menumpuk di Kota Gunungsitoli, sesuai dengan keadaan dan armada yang ada. Kalau harus terbebas dari sampah, mustahil bisa saya laksanakan, meskipun armada sudah lengkap, tuturnya.

Ignatius harefa, yang dijumpai Wartawan di Kantor Wali Kota Gunungsitoli, Jalan Pancasila, Kecamatan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, juga menambahkan bahwa kendala yang dialami dalam menangani sampah di Kota Gunungsitoli, terutama terjadi pada keterbatasan armada yang ada.

“Kita sudah mengusulkan penambahan armada sebanyak 5 unit, tapi yang mengelola bukan Dinas Tarukim, melainkan Dinas PPKAD sebanyak 3 unit dan Dinas Lingkungan Hidup sebanyak 2 unit. Hingga kini hal tersebut masih belum terealisasi, sedangkan pemenang tendernya sudah ditentukan” jelasnya.

Selain armada, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga menjadi suatu kendala, ujar Kadis Tarukim. “Jika hujan, kita tidak bisa membuang sampah di TPA yang berada di Kabupaten Nias dimana selama ini kita menumpang untuk membuang sampah, karena mobil sampah kita, sering terperosok ke dalam lumpur kalau hujan” ucapnya.

Untuk diketahui, selama ini Kota Gunungsitoli masih menumpang di TPA milik Kabupaten Nias, di Desa Bakaru, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias, menunggu pembangunan TPA milik Kota Gunungsitoli, yang dilakukan oleh UNDP, di Desa Teluk Belukar, Kecamatan Gunungsitoli Utara, Kota Gunungsitoli, tambah Kadis Tarukim.

Dia juga memberitahu jika pemulung yang banyak di Kota Gunungsitoli, juga merupakan sebuah kendala. Dimana menurut kadis Tarukim, sampah yang telah dikumpul oleh para penyapu jalan didalam tong sampah, kembali berserakan keluar dan memenuhi jalan, karena ulah pemulung yang mencari botot atau plastik didalam tong sampah milik warga, keluhnya.

Mengatasi masalah armada, sebelum armada dari PPKAD dan Dinas Lingkungan Hidup tiba, Kadis Tarukim memberitahu jika dia telah mengajukan Dana Rp.70 juta, untuk menyewa armada milik swasta selama 20 hari. Dia juga menghimbau masyarakat untuk menyediakan tempat sampah dirumah masing-masing, agar sampah tidak tercecer, dan memudahkan para petugas sampah untuk mengangkutnya diatas mobil sampai pada tempat pembuangan akhir (LBS/Raja).

Baca Selengkapnya......

Sabtu, 13 Agustus 2011

Edisi II Agust 2011 (Utama) : SEGI TIGA BERMUDA RAUP UANG NEGARA


SEGI TIGA BERMUDA RAUP UANG NEGARA

Sibolga, CAKRA
Perangai seorang Hendra Darmalius yang juga Kepala DKP Kota Sibolga diluar jangkauan akal sehat dan nurani sadar seorang abdi negara. Tindakan yang bersangkutan sudah terlalu jauh dari harapan kebenaran. Setiap orang tentu masih ingat tentang ulah sang Kadis yang kemudian memberikan kerugian pada satu pihak dalam hal itu CV. Permata Ruben dan memberikan keuntungan pada pihak lain, dalam hal ini CV. Hotma soal tender proyek kantor DKP Sibolga yang mana sang Kadis dan P2KP Ali Nafiah merekayasa banyak hal untuk kepentingan kemenangan CV. Hotma dalam proses tender. Hal ini juga sudah sampai ke pihak yang berwajib, Polresta Sibolga Kota
Kabarnya kemarin, pihak pihak terkait sudah dipanggil oleh penyidik, namun tidak dapat dilakukan pemeriksaan karena semua berkas berkas yang berhubungan dengan itu ada ditangan BPK. Sehingga waktu menghadiri panggilan, yang bersangkutan tidak disertai oleh data, atau datang dengan tangan kosong.

Saat SKI Cakra melakukan konfirmasi kepada BPK, salah seorang pegawai Badan Pengawas Keuangan (BPK) di Medan melalui ponsel mengatakan bahwa berkas yang berkaitan dengan persoalan itu memang ada di BPK, pihak BPK membeberkan temuan pada Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan dimaksud dengan cukup gamblang, dikatakan bahwa sengketa CV. Permata Ruben dengan CV. Hotma merupakan temuan yang paling menonjol dan harus diselesaikan sesuai ketentuan. Dikatakan bahwa, saat penawaran, yang dimasukkan oleh CV. Hotma adalah tawaran senilai Rp 867.938.000,- dan penawaran dimaksud dinyatakan sebagai pemenang tender walau dalam sesi penawaran, tawaran yang disampaikan CV. Hotma merupakan penawaran tertinggi. Namun setelah pelaksanaan pengerjaan dilakukan dan oleh pihak DKP dinyatakan sudah selesai, pembayarannya juga menimbulkan pertanyaan, karena jumlah yang dibayarkan tidak sesuai dengan jumlah angka yang tertera dalam penawaran, DKP pimpinan Hendra Darmalius, Api malah membayarkan sesuai nilai pagu sebesar Rp. 873.331.000, rekayasa ini harus diselesaikan, tandasnya.

Sekedar Informasi, proyek pembangunan kantor DKP di Ujung Batu Sarudik yang dikerjakan oleh CV. Hotma bukannya dikerjakan sendiri sesuai dengan ketentuan yang semestinya, tapi CV. Hotma dengan segala ketidakpedulian yang ia punya mengalihkannya kepihak lain. Pengerjaan proyek itu ternyata di Sub kontrakkan oleh CV. Hotma kepada rekanan lain warga keturunan bernama Hendrik.

CV. Hotma mampu melakukan praktik ini dengan bebas tanpa hambatan dari pihak mamapun jua, padahal hal ini jelas jelas telah melanggar Perpres nomor 54/2010, parahnya lagi, pekerjaan jelas jelas tidak selesai, namun Hendra Darmalius membayarkan hingga 100%, dan ternyata tidak itu saja, celakanya lagi lanjutan pengerjaan proyek masih di CCO kan juga oleh P2K Ali Nafiah untuk TA. 2011 sebesar Rp. 360.000.000, menurut Daud Sinaga proyek ini merupakan proyek rehab berat dan harus selesai karena sifatnya bukan rehab ringan dan tidak bisa dilanjutkan.

Kenyataan ini setidaknya membuka mata kita betapa hancur leburnya sistem yang dibangun oleh pemerintah Kota Sibolga. Anehnya, ulah ulah tak benar semacam ini terus saja mengalir deras bak air sungai aek doras yang meluncur mulus sampai ke Pantai Ujung Sibolga. Dan jika hal hal semacam ini masih juga menjadi bagian dari Negeri Berbilang Kaum Sibolga Nauli maka diyakini dalam waktu yang tidak lama lagi Kota kecil yang semestinya asri dan sejuk ini akan berubah menjadi kota yang tiap saat dan waktu bergumul dengan SDM SDM yang mumpuni untuk urusan korupsi. (C111)

Baca Selengkapnya......

Edisi II Agust 2011 (Utama) :Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah Priode 2011-2016


Raja Bonaran Situmeang, SH, M.Hum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE
Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah Priode 2011-2016

Pandan, CAKRA
Selasa (9/8) membuka sejarah baru bagi Kabupaten Tapanuli Tengah, dimana Raja Bonaran Situmeang, SH, MHum dan H. Syukran Jamilan Tandjung, SE resmi dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Tengah periode 2011-2016 oleh Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjonugroho, ST dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRD Tapanuli Tengah di Gedung Serba Guna Pandan. Prosesi Pelantikan juga ditandai penandatanganan dan penyematan tanda jabatan.
Plt Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujonugroho mengatakan kalau acara pelantikan kali ini adalah pelantikan yang paling ramai. “Seingat saya selama melantik Bupati atau Walikota, ini adalah pelantikan yang paling ramai di hadiri masyarakat,” kata Gatot saat menyampaikan kata sambutan seraya mengisyaratkan kepada Bupati yang baru dilantik Bonaran, bahwa kehadiran masyarakat sebanyak ini merupakan suatu bentuk dukungan nyata terhadap kepemimpinan Bonaran, dan itu harus dijawab dengan berhasil membawa perubahan di Tapanuli Tengah.

“Hilangkan perbedaan yang sempat terjadi selama proses Pilkada dan himpunlah semua kekuatan yang ada di tengah masyarakat untuk bersama-sama membangun dan memajukan Tapteng dalam pembangunan,” Demikian Plt Gubsu seraya mengingatkan bahwa Bonaran saat ini sudah menjadi “orang tua” bagi semua masyarakat Tapteng sekaligus menjadi pengayom bagi semua partai politik yang ada di Tapteng.

Gatot Pujonugroho menambahkan, pada dasarnya jabatan Bupati bukanlah kemuliaan melainkan tanggungjawab atau amanah yang harus dilaksanakan secara iklas dan penuh tanggungjawab dan bila pengabdian ini diterima dan berhasil ditengah masyarakat maka jabatan Bupati itu barulah akan menjadi kemuliaan.

Bonaran juga diingatkan, agar dalam penyusunan program pembangunan seperti halnya penyusunan RPJM (rencana pembangunan jangka menegah) agar melibatkan seluruh stockholder yang ada ditengah masyarakat sehingga pembangunan yang diprogramkan merupakan pembangunan yang inginkan masyarakat namun demikian baiknya RPJM yang akan disusun tetap bersinergi dengan RPJM pemerintah pusat dan RPJM pemerintah provinsi.

“RPJM yang akan disusun bukanlah politis melainkan buttom-up yang menyusun program pembangunan yang benar-benar menyentuh langsung kepentingan masyarakat luas yang arahkan akan membawa daerah ini menjadi Tapteng yang Nauli dan Tapteng yang Indah,” katanya.

Sebagai orang kota yang “turun gunung”, lanjut Plt Gubsu Bonaran diharapkan bisa memadukan gemerlapnya keindahan ibukota Jakarta dengan potensi SDA yang ada di Tapteng ini yang semuanya itu akan diperuntukan bagi kesejahteraan masyarakat Tapteng.

Sidang Paripurna Istimewa DPRD

Pantauan wartawan, acara pelantikan diawali dengan nyanyian Indonesia Raya, pembukaan rapat paripurna oleh Ketua DPRD Kab Tapteng Sintong Gultom, pembacaan SK Mendagri oleh Sekwan, pengambilan sumpah/janji jabatan oleh Plt Gubsu a/n Presiden RI, penandatangan berita acara pengambilan sumpah/janji jabatan, pelantikan dilanjutkan penandatanganan naskah surat pernyataan pelantikan oleh Plt Gubsu, pemasangan tanda pangkat dan penyematan tanda jabatan.

Usai pidato pelantikan oleh Plt Gubsu dilanjutkan dengan doa oleh Kakan Kemenag Tapteng dan penutupan rapat paripurna istimewa DPRD.

Sejumlah petinggi Parpol dan pejabat terlihat hadir pada acara pelantikan Bupati Tapteng yang baru ini diantaranya Albar Tanjung, anggota DPR-RI Jhoni Allen Marbun, Ruhut Sitompul, Jhoni Buyung Saragih, anggota DPD-RI Rudolf Pardede, Parlindungan Purba, Bupati dan Walikota se- Sumut diantaranya Bupati Taput Torang Lumbantobing, Walikota Sibolga Drs HM Syarfi Hutauruk dan Bupati Tapteng Syahrul Pasaribu, Dirut Bank Sumut Gus Irawan, unsure Muspida Kota Sibolga dan Kab Tapteng, tokoh masyarakat, pemuda, agama dan adat serta puluhan ribu masyarakat kaum ibu, bapak dan anak-anak dari tiap Kecamatan di Tapteng.

Proses pelantikan berjalan aman dan lancar, sejumlah personil Brimob terlihat berjaga-jaga di sekitar lokasi pelantikan terlihat juga armada anti huru-hara Baracuda di lokasi pelantikan.

Arus lalu-lintas disekitar lokasi pelantikan terlihat macet mengingat banyaknya warga yang datang ke lokasi pelantikan untuk turut menyaksikan secara langsung proses pelantikan Bupati baru ini. Terlihat juga aparat kepolisian setempat turut aktif mengatur arus lalu-lintas. (C. 111)

Baca Selengkapnya......

Edisi II Agust 2011 (Utama) : PANITIA PELANTIKAN BUPATI ‘ BERENGSEK ‘


PANITIA PELANTIKAN BUPATI ‘ BERENGSEK ‘
SEBANYAK 171 KEPALA DESA DILARANG MASUK KE RUANGAN SIDANG

Pandan, CAKRA
Sangat disayangkan sikap angkuh yang dipertontonkan para Panitia Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Tapteng Periode 2011-2016 Bonaran Situmeang SH,MH dan Sukran jamilan Tanjung SE pada hari Selasa (9/8) di Gedung Olah Raga Pandan. sebelum acara pelantikan seluruh Kepala Desa yang mengabdi di Pemkab Tapanuli Tengah turut hadir sesuai Undangan Ketua DPRD Kabupaten Tapanuli Tengah yang ditanda tangani oleh Sintong Gultom, sialnya, walau sudah susah payah untuk datang menhadiri acara pelantikan orang nomor 1 itu, mereka tidak diperbolehkan masuk, dengan angkuhnya Ketua Panitia mengusir kami, ujar para Kades kesal.
Amatan Format (Forum Masyarakat Bersatu dan Berdaulat) Hendri Pakpahan mengatakan sangat menyayangkan sikap dan perilaku para panitia pelantikan, selain bersikap arogan juga dinilai sudah tidak menunjukkan suatu sikap kepedulian terhadap sopan santun, adat dan budaya hormat menghormati yang selama ini sudah tertata dengan baik di kabupaten tapanuli tengah.

Selain itu Hendri Pakpahan juga menilai pantia pelantikan bupati mirip “Preman” karena bertindak sangat “Berengsek“, sebab sikap kurang terpuji itu dikhawatirkan akan membudaya jika tidak segera ditindak, setidaknya Bupati terpilih memanggil perangkat panitia untuk diminta pertanggung jawabannya akan tindakan dan perbuatan yang mengusir para Kepala desa.

Kepala Desa merupakan ujung tombak pelaksana pemerintah hingga kepelosok desa, bukan merupakan pejabat yang harus disanjung dan butuh penghormatan, tapi kalau kemudian dilakukan pengusiran dan pelarangan masuk juga bukan hal yang pantas mereka dapatkan. (C. 111)

Baca Selengkapnya......

Edisi II Agust 2011 (Utama) : ‘TANGKAP’ TOLUTO DAN FERNANDO SIMANJUNTAK

ALIANSI MASYRARAKAT TAPUT DESAK APARAT HUKUM
‘TANGKAP’ TOLUTO DAN FERNANDO SIMANJUNTAK

Tarutung, CAKRA
Nama Torang Lumban Tobing alias TOLUTO menjadi bahan gunjingan gratis dikalangan masyarakat Tapanuli Utara khususnya dikota rohani Tarutung, selain Oknum Bupati yang terkesan sangat “Rakus” dan tidak pernah memikirkan kesejahteraan rakyat Tapanuli Utara ini kecuali hanya memperkaya diri dan hidup “hura-hura” dituding sebagai biang kerok kesengsaraan masyarakat Tapanuli Utara, selain menyengsarakan warga, oknum ini juga dituding menyengasarakan para PNS yang bolak-balik diintimidasi diancam dipecat( Beberapa waktu lalu pernah dirapatkan dengan para SKPD di kantor Bupati Taput) jika membocorkan akal bulus yang dilakoninya, jika tidak meng oke kan segala niatnya, karena itu agar segera ditangkap oleh aparat hukum, demikian dikatakan Sofian Simanjuntak (46) yang tinggal di jalan DI Panjaitan Tarutung.
Kepada awak Koran ini, Sofian Simanjuntak membeberkan antusias dan harapan warga taput untuk mendesak aparat hukum agar segera menangkap Torang Lumban Tobiung alias Toluto dan oknum Ketua DPRD Taput Fernado Simanjuntak SH karena dinilai telah menghancurkan cita-cita dan harapan masyarakat Taput, kedua petinggi kota rahani ini sudah menjadi bahan gunjingan gratis, mereka dituding sebagai pelaku rekayasa kesengsaraan dan penderitaan warga taput, khususnya karena adanya berita akurat dari salah satu surat kabar lokal ternama dan popular diseluruh tapanuli dan nias yang diklaim masyarakat sebagai bukti pelampiasan kekecewaannya. Khususnya para petani tembakau yang merasa sudah dikadali alias dipaoto-oto songon jappurut. (Dibodohin bagaikan tak punya harga diri).

Menyimak berbagai tudingan miring atas kekecewaan rakyat taput terhadap Toluto, warga Taput juga mengklaim Ketua DPRD Taput Fernando Simanjuntak SH agar turut bertanggung jawab atas segala penderitaan dan kesengsaraan yang dialami warga taput, sebab oknum ketua yang dipercaya untuk mewakili rakyat dalam segala bentuk tempat penyampaian aspirasi dan kekecewaaan ini malah memilih pintar ngatakan OK Bos dan duduk santai diatas kursi roda, bersiul ria dan ngantuk, selanjutnya ambil gaji dan Tralala….Trilili .!!! demikian dikatakan seorang pria yang duduk berdampingan dengan Sofian Simanjuntak tanpa bersedia namanya dikorankan.

Parahnya, ketika awak Koran ini mencoba klarifikasi seputar kekecawaan warga terhadap rezim Toluto Senin (8/8) oknum ketua ini malah memasang jurus langkah lari seribu, sepertinya habis membaca koran yang burgar dan blak-blakan tentang dugaaan kasus korupsi yang dilakoninya bekerja sama dengan Raja Toluto yang boleh disebut songon si Raja Zakkeuz sijalo beo ( Raja Sakkeus mirip Kadis Pendapatan masa kini ) untuk ketemu oknum yang sarjana hukum ini tidak bersedia dan lari langkah seribu, sesuai isi ponselnya agar awak Koran ini yang sudah seminggu lebih membidik berbagai kecurangan seperti kasus korupsi melalaui proyek fiktip yang dilakoni Toluto dan Kroninya, dikatakan agar berhadapan saja dengan Komisi A, kepada komisi A saja ujarnya dan langsung menutup ponselnya, pada hal agenda kegiatan Ketua DPRD pada saat itu tidak ada menyangkut kegiatan Dewan, demikian dikatakan beberaspa anggota dewan yang namanya malas dikorankan, mereka mengatakan bahwa oknum ketua ini sangat licik dan pintar berdusta, kami aja dibohongi, ujar salah seorang anggota dewan yang tubuhnya agak pendek.

Pendek cerita, awak Koran ini penasaran dan mencoba untuk tetap harus bertemu, tujuannya agar tidak menjadi berita sepihak, namun alangkah kecewanya awak Koran ini yang sudah keburu membawa beberapa tokoh masyarakat dan beberapa PNS yang diancam untuk dipecat itu tak bertemu dengan oknum ketua yang dinilai mirip “Bandit”, kami sangat kecewa ujar para tokoh,anehnya wakil rakyat lainnya pun hilang, diduga turut ambil jurus langkah seribu mirip gaya bosnya, buntutnya kekecewaan ini akhirnya memperparah suasana menjadi kata istilah tarutung, Loakni halakon, dang diattusi karejona.( Bodoh kali mereka ini gak ngerti kerjanya ) ujar para tokoh yang mendapingi awak Koran ini Maruli P. Simanjuntak yang sengaja diturunkan CAKRA melakukan deteksi awal dari LSM Cakra.

Sekedar Informasi, berbagai kejanggalan dugaan korupsi tentang melonjaknya harta kekayaan Torang Lumbantobing alias Toluto, itung-itung ganjinya gak setimpal, sebelum menjabat sebagai Bupati Taput aja katanya masih memiliki harta kekayaan sekitar Rp 850 juta saja, namun setelah menjabat menjadi Bupati hingga dua periode, oknum mantan Bandar judi togel yang pernah merajai Togel ditapteng ini ( Data sesuai keterangan para tukang rekap di Tapteng kala itu) dengan mendadak kaya raya dan boleh dikatakan konglomerat kampungan, seperti memliki beberapa rumah permanen dibilangan kota medan ibikota provinsi sumut, memiliki kebun tembakau yang danannya diduga hasil dari rekayasa bantuan untuk petani tembakau, demikian juga dengan dugaan adanya berbagai kasus korupsi yang lagi dibidik koran ini, Kabag Humas Pemkab Taput

Baca Selengkapnya......

Edisi II Agust 2011 (Utama) : KANTOR DIKNAS TAPTENG DITUDING SARANG ‘ PEMERAS DAN PENYAMUN’


KANTOR DIKNAS TAPTENG DITUDING SARANG ‘ PEMERAS DAN PENYAMUN’
Drs Marhite Rumapea sebagai dalang, Drs Pardomuan Siahaan Eksekutor, Ani br Sihombing pemegang dana, Kennedi Siallagan Ma Comblang

Pandan, CAKRA
Upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dikabupaten tapteng tidak mendapat dukungan dari para petinggi dinas pendidikan tersebut, selain dituding menyalahgunakan dana bantuan DAK dan BDB, Kadis Diknas Drs Marhite Rumapea bekerjasama dengan Kepala Tata Usaha (KTU) Drs Pardomuan Siahaan dan seorang staf Ani br Sihombing dituding sebagai biang kerok bertambahnya kesengsaraan dan penderitaan bagi guru yang mengikuti sertifikasi, para guru diperas dengan berpariasi, antara Rp 1 juta hingga 1,5 juta per orang, jumlah guru yang ikut sertifikasi sebanyak 625 orang.
Bukan itu saja, masih sekitar bulan oktober 2010, para guru tenaga honorer diperas sekitar Rp 500.000 hingga Rp 1.000.000 walaupun masa tugasnya hanya beberapa bulan, beberapa guru honorer yang tidak memiliki uang harus sabar menanggung resiko tindakan oknum kadis yang disebut “ Mata Duitan” . masih ada guru yang masih bertugas 3 bulan, diloloskan mendapat NUPTK menjadi CPNS, dalam hal ini Kennedi Siallagan dituding sebagai “Mak Comblang” oknum Kadis untuk mengelabui LSM, tujuannya agar tidak ekspos dan borok ini ditutup-tutupi.

Terkuaknya kasus yang sangat mencoreng nama baik dunia pendidikan dikabupaten tapteng berawal dari penuturan para guru yang merasa tidak terima dengan tekanan materi yang dilakukan oleh Kadis Pendidikan melalui eksekutornya Drs Pardomuan Siahaan dan seorang Staf Ani br Sihombing, para oknum ini juga dituding sebagai Oknum “ Pemeras dan Penyamun” karena memaksa para guru untuk menyetor uang pelicin tanpa memikirkan betapa susahnya para guru untuk menghidupi keluarganya, kami terpaksa berutang, kalau tidak kami tidak ikut mendaftar sertifikasi, demikian dikatakan Danson Marbun SPd Nip: 196004141984007 pengawas SLTP,SMA Diknas Tapteng, alamat Desa Tumba Jae Kecamatan Manduamas dalam surat pernyataannya dilengkapi meterai Rp 6.000 yang ditanda tangani pada senin (6/6) di Manduamas.

Selain itu, Danson menyebut bahwa walupun uang pelicin sudah disetor, pada bulan oktober 2010 lalu, namun masih ada yang tidak lulus sertifikasi, termasuk dirinya, anehnya biar tidak lulus uang tidak dikembalikan, ketika ditagih pertanggung jawabannya KTU Diknas malah memilih untuk absen dan jarang ngantor, celakanya Danson malah dipindahkan ke sibabangun sekitar 200 km dari Tumba Jae. karena didesak dan merasa ketakutan akhirnya Kadis Diknas Drs Marhite Rumapea memerintahkan KTU dan “ Mak Comblang” Kennedi Siallagan untuk mengembalikan uang Danson, para staf menyebut oknum KTU sengaja berpura-pura sakit untuk menghindari tanggung jawabnya. Keterlaluan, dasar “Pemeras dan Penyamun” ujar rekan-rekan Danson geram.

Parahnya, walau uang sudah disetor, namun Oknum Kadis masih ngotot untuk tidak mengikut sertakan dirinya, melalui keterangan KTU kepadanya bahwa dirinya disebut-sebut sebagai lawan politik pasangan Dina-Hikmal yang merupakan jagoan Balon Bupati Oknum Kadis, merasa TKO pada putaran pertama Pilkada 12 Maret 2011 lalu, Drs Marhite Rumapea ambil jurus langkah seribu, dengan kasak kusuk untuk mengurus mutasi perpindahannya kedaerah lain, tujuannya untuk menghindar dari jangkauan hukum, enak aja, ujar para guru yang selalu aktip mengikuti gerak-geriknya.

Kadis Diknas Drs Marhite Rumapea ketika dimintai tanggapannya Rabu (27/7) dikantornya tidak berada ditempat, namun Kennedi Siallagan, seorang staf bina program dan monitoring yang berperan sebagai Ma Comblang mengajak awak Koran ini agar dijembatani untuk ketemu dengan oknum Kadis, tujuannya tidak jelas, namun upaya tersebut gagal karena Kadis dan KTU jarang masuk kantor, diduga jantungnya kedua oknum ini sudah berdebar-debar karena berbagai kasus sedang dibidik oleh para aparat hukum, demikian juga dengan staf Ani br Sihombing, melalui ponselnya membenarkan adanya kutipan itu, namun yang bertanggung jawab bukan dirinya, melainkan Kadis dan KTU, tanya saja Kadis ujarnya berkelit. (MPS)

Baca Selengkapnya......

Edisi II Agust 2011 (Utama) : Seputar Aktivis Dilaporkan Warga

Seputar Aktivis Dilaporkan Warga
“Hilangnya Nilai Perjuangan”
Edianto Simatupang : Itu Fitnah

Sibolga, Cakra
Terkait perjuangan menuntut hak atas tanah di kawasan PLTU Labuan Angin, warga Mungkur, Tapian Nauli II melaporkan koordinator FPTR, aktivis Pergerakan Indonesia, atas dugaan penggelapan dana bantuan dari rekanan. Aktivis pembela rakyat berinisial ES dianggap sebagai bentuk pembunuhan karakter. ES menyesalkan perjuangan yang selama ini dilakukannya melalui Forum Pembela Tanah Rakyat (FPTR) demi membela hak warga malah berbuah fitnah dan tuduhan sepihak.
“Saya sangat sesalkan sikap warga itu. Padahal, sejak awal melakukan pemblokiran, melalui musyawarah warga telah memilih ML (Mantan Kepala Desa Tapian Nauli) sebagai bendahara forum. Itu saya lakukan untuk mendidik warga mengerti akan tanggungjawab di dalam organisasi,” tukas ES kepada awak Cakra di Sibolga, Sabtu (2/8).

Dia menjelaskan, sebelum rapat besar bersama seluruh warga, ES selaku koordinator tetap melaporkan pemakaian keuangan, yang diketahui oleh koordinator lapangan, baik itu pemasukan dan pengeluaran uang. Termasuk sumbangan maupun kompensasi dari rekanan sebagai kesepakatan kerja sama dengan warga. “Sebagai penanggung jawab dan koordinator utama dalam forum, saya harus bertanggung-jawab melaporkan pemakaian uang dalam tiap kegiatan selama perjuangan. Seperti misalnya melakukan aksi-aksi di Medan, membawa warga sampai ke Jakarta, mengurus ini-itu ke sana-sini, operasional kawan-kawan LBH selama pendampingan hukum saat insiden pembakaran truk pada 30 November 2010, dan lainnya,” terang ES.

Terbukti, lanjut ES, setelah hampir 2 minggu di Jakarta, pada tanggal 4 Januari 2011 malam, saya ada memerintahkan untuk digelar rapat besar seluruh warga untuk melaporkan semua kegiatan, perkembangan perjuangan dan strategi gerakan perjuangan untuk membebaskan 7 warga yang menjadi tersangka dalam insiden pembakaran truk. Namun apa yang terjadi, sesal ES, semua warga malah balik mencurigainya. Warga juga menuduhnya tidak bertanggung-jawab atas terjadinya insiden itu.

Bahkan warga yang menfitnah dan mencaci maki ES tidak bisa hadir dalam rapat besar itu. “Setelah rapat besar itu selesai atau sekitar pukul 23.00 WIB, warga yang menuduh hadir, langsung ‘menyerang’ saya dan menuduh saya. Mereka bilang, kamu yang memenjarakan anak saya, kamu tidak bertanggung-jawab, enak-enakan di Jakarta,” tandas ES, menirukan tudingan warga kala itu.

ES sendiri kala itu mengaku sempat terdiam dan berupaya memberi penjelasan. “Bahkan saya menangis karena saya tidak menyangka semua tuduhan warga itu,” ujarnya.

Saat itu, masih ES, ada sebagian warga yang mendukungnya balik emosi. Mereka tidak terima ES diperlakukan seperti itu. “Untuk menghindari konflik sesama warga. Akhirnya saya memutuskan meninggalkan Labuan Angin, namun tetap masih bertanggung-jawab atas pemblokiran jalan itu hingga sekarang,” tukas ES.

ES meninggalkan Labuan Angin tepatnya pada 5 Januari 2011. Sementara kata ES, tuduhan dan fitnah kian gencar dialamatkan padanya. “Saya sedih. Warga tidak melihat perjuangan kita, bagaimana tanah mereka bisa diakui secara hukum melalui gelar perkara di Mapoldasu (22 November 2010), bahkan sampai membawa persoalan tersebut ke tingkat nasional. Warga juga bisa merayakan HUT RI dengan semarak, warga juga mendapat kompensasi sebesar Rp. 275 juta yang sudah dibagikan,” ungkapnya.

Malah, kata ES forum tidak pernah memungut biaya untuk perjuangan tersebut. “Mereka tidak melihat penderitaan saya. Saya jauh dari keluarga, pengorbanan saya sampai rumah saya dibakar, ditikam saat melakukan aksi. Saya coba diculik, orangtua saya dimutasi dan turun jabatan. Bagaimana mungkin saya berniat menjual perjuangan, padahal pemblokiran masih berlangsung saat itu,” keluh ES.

Namun demikian ES mengakui bisa saja ada kesilapan, lupa tidak melaporkan keuangan. Seperti dana bantuan ke rumah ibadah. Tapi, kata ES, penerimaan bantuan itu sepengetahuan koordinator lapangan Sawaluddin Simanjuntak.

Hanya saja waktu itu, ES mengaku belum sempat menyerahkannya kepada bendahara. Karena sifatnya mendadak, dana tersebut dipakaianya untuk operasional rekan-rekan dari LBH selama seminggu dan juga kepada sejumlah rekan-rekan media. “Soal dana yang Rp. 40 juta dari rekanan, saya tidak pernah menerimanya. Pertanyaannya sejak kapan rekanan itu berhak memberi ganti rugi lahan warga ?. Lalu, apakah warga pantas mengadukan saya oleh karena kesilapan dan kekurangan saya itu ?. Apa mereka juga membiayai saya, apa mereka merasakan penderitaan saya, pernakah saya menutut atas pengorbanan dan perjuangan ini ?. Semua pertanyaan itu untuk menyadarkan kita bahwa kehadiran saya di sana adalah panggilan jiwa untuk kemanusiaan,” pungkas ES.

Sebelumnya, ES mengatakan bahwa ia melaporkan bendahara forum ML ke Polres Tapteng, sebelum warga lainnya mengadukannya. Itu dilakukannya atas permintaan warga juga. Hal itu dilakukan agar ML membuat laporan keuangan. (c. 111)

Baca Selengkapnya......